Showing posts with label Motivation. Show all posts
Showing posts with label Motivation. Show all posts

Tuesday, March 18, 2008

Leadership Role


Tahun 2005, Stephen R. Covey menambah karakter ke delapan sebagai dimensi baru dalam mewujudkan pemahaman mengenai pribadi yang utuh. Karakter kedelapan memberi pola pikir dan perangkat keahlian untuk secara terus menerus menggali potensi yang ada di dalam diri manusia melalui semua peran dalam 4 Peran Kepemimpinan :

Pertama, Panutan atau menyajikan keteladanan (individu, tim). Menjadi panutan mengilhami timbulnya kepercayaan tanpa memintanya. Jika orang hidup dengan prinsip-prinsip yang diwujudkan dalam karakter ke-8, kepercayaan, pengikat kehidupan ini, akan tumbuh dengan subur. Kepercayaan akan muncul kalau kita memang layak dipercaya. Secara singkat, mejadi panutan menghasilkan kewibawaan moral pribadi.

Kedua, Perintis. Merintis jalan menciptakan keteraturan tanpa perlu memaksakannya. Hal ini berarti bahwa jika orang mengaitkan identitas mereka dan terlibat dalam pembuata keputusan-keputusan strategis, khususnya mengenai nilai-nilai yang dipegang serta tujuan-tujuan prioritas tertinggi, mereka akan mengalami keterkaitan emosional. Manajemen dan motivasi merupakan urusan di dalam diri. Orang tidak perlu lagi diatur-atur dan dimotivasi dari luar. Merintis jalan menghasilkan kewibawaan moral visioner.

Ketiga, Penyelaras. Menyelaraskan struktur, sistem, dan proses merupakan perwujudan dari upaya untuk memupuk organisasi dan semangat kepercayaan, visi, dan pemberdayaan. Menyeleraskan menghasilkan kewibawaan moral yang dilembagakan.

Keempat, Pemberdaya. Memberdayakan adalah buah dari ketiga peran yang lain – menjadi panutan, merintis jalan, dan menyelaraskan. Peran ini membebaskan potensi manusia tanpa memerlukan motivasi eksternal. Memberdayakan akan menghasilkan kewibawaan moral budaya.

Friday, March 14, 2008

Karakter Pembangun Kemenangan

Masih ingatkah buku 7 Habits of Highly Effective People karya legendaris dari Stephen R. Covey? Buku tersebut sudah lama saya baca, mungkin waktu saya kuliah. Belakangan ini, saya expose lagi buku tersebut, ternyata buku tersebut masih memiliki "power" buat saya. Apalagi dengan tambahan "the 8th Habit"-nya, kayaknya Stephen R. Covey benar-benar maestro di dunia motivasi. Disini, saya tulis lagi rangkuman dari 7 Habits. Buat reminding character motivasion kita. The 8th Habitnya nyusul di posting berikutnya ya...


7 Habits

Tujuh karakter pembangun kemenangan dijabarkan oleh Stephen R. Covey. Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Eefektif merupakan esensi perwujudan dari upaya kita untuk menjadi seseorang yang seimbang, utuh, dan kuat, serta menciptakan sebuah tim yang saling melengkapi berdasarkan rasa saling menghormati. Hal ini adalah merupakan prinsip-prinsip dari karakter pribadi.



7 Habits of Highly Effective People
Source by Stephen R. Covey

Character 1 - Proactive

Menjadi proaktif adalah sesuatu yang lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Proaktif berarti menyadari bahwa kita bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihan kita dan memiliki kebebasan untuk memilih berdasarkan prinsip dan nilai, dan bukan berdasarkan suasana hati atau kondisi di sekitar kita. Orang-orang yang proaktif adalah agen-agen perubahan, dan memilih untuk tidak menjadi korban, untuk tidak menjadi reaktif; mereka memilih untuk tidak menyalahkan orang lain.

Character 2 – Start from the End

Individu, keluarga, tim dan organisasi membentuk masa depan mereka dengan terlebih dahulu menciptakan sebuah visi mental untuk segala proyek, baik besar maupun kecil, pribadi atau antarpribadi. Mereka tidak sekedar hidup dari hari ke hari tanpa tujuan yang jelas dalam pikiran mereka. Mereka mengidentifikasi diri dan memberikan komitmen terhadap prinsip, hubungan, dan tujuan yang paling berarti bagi mereka.

Character 3 – Put First thing first

Mendahulukan yang utama berarti mengatur aktivitas dan melaksanakannya berdasarkan prioritas-prioritas yang paling penting. Apa pun situasinya, hal itu berarti menjalani kehidupan dengan didasarkan pada prinsip-prinsip yang dirasakan paling berharga, bukan oleh agenda dan kekuatan sekitar yang mendesak saja.

Character 4 – Think Win Win

Berpikir menang-menang adalah kerangka pikiran dan hati yang berusaha mencari manfaat bersama dan saling menghormati di dalam segala jenis interaksi. Berpikir menang-menang adalah berpikir dengan dasar-dasar Mentalitas Berkelimpahan yang melihat banyak peluang, dan bukan berpikir dengan Mentalitas Berkekurangan dan persaingan yang saling mematikan. Karakter ini bukanlah berpikir secara egois (menang-kalah) atau seperti martir (kalah-menang). Karakter ini adalah berpikir dengan mengacu kepada kepentingan “kita”, bukan “aku”.

Character 5 – Effective Communication

Effective Communication yang dimaksud adalah berkomunikasi dengan empathy; berusaha memahami dulu, baru kemudian berusaha dipahami. Jika kita mendengar dengan maksud untuk memahami orang lain, dan bukan sekedar untuk mencai celah untuk menjawab, kita bisa memulai komunikasi dan pembentukan hubungan yang sejati. Peluang-peluang untuk berbicara secara terbuka dan untuk dipahami kemudian akan datang secara lebih alamiah dan mudah. Berusaha untuk memahami memerlukan pertimbangan matang; berusaha untuk dipahami memerlukan keberanian. Efektivitas terletak pada menyeimbangkan atau menggabungkan keduanya.

Character 6 – Synergy

Sinergi adalah alternatif ketiga – bukan cara saya, cara Anda, tetapi sebuah cara ketiga yang lebih baik daripada apa yang bisa kita capai sendiri-sendiri. Sinergi merupakan buah dari sikap menghormati, menghargai, dan bahkan merayakan adanya perbedaan di antara orang-orang. Sinergi bersangkut paut dengan upaya untuk memecahkan masalah, meraih peluang dan menyelesaikan perbedaan. Ini seperti kerja sama kreatif di mana 1 + 1 = 3, 11, 111, … atau lebih banyak lagi. Sinergi juga merupakan kunci keberhasilan dari tim atau hubungan efektif mana pun. Sebuah tim yang bersinergi adalah sebuah tim yang saling melengkapi, di mana tim itu diatur sedemikian rupa sehingga kekuatan dari para anggotanya bisa saling menutupi kelemahan-kelemahannya. Dengan cara ini kita mengoptimalkan kekuatan, bekerja dengan kekuatan tersebut, dan membuat kelemahan dari masing-masing orang menjadi tidak relevan.

Character 7 – Sharpen the Saw

Mengasah gergaji berkenaan dengan upaya kita untuk memperbarui diri secara terus-menerus pada empat bidang dasar kehidupan: fisik, sosial/emosional, mental, dan spiritual. Ini adalah karakter yang meningkatkan kapasitas kita untuk menjalankan semua kebiasaan lain yang akan meningkatkan efektivitas kita.


Tiga karakter pertama (Proactive, Start form the End, Put First thing First) akan meningkatkan rasa percaya diri secara signifikan yang berujung kepada kemenangan pribadi (Private Victory). Ketiga karakter berikutnya (Think Win-win, Effective Communication, Sinergy) akan memperbaiki dan membina kembali hubungan tim menjadi lebih solid, lebih kreatif dan mencapai kemenangan publik (Public Victory). Karakter ketujuh, jika dihayati secara mendalam, akan memperbarui enam karakter yang pertama dan akan membuat kita benar-benar mandiri dan mampu untuk saling tergantung secara efektif. Karakter ini memperbarui integritas dan rasa aman seseorang yang berasal dari kedalaman dirinya sendiri (Karakter 1, 2 dan 3) dan memperbarui semangat maupun karakter untuk membentuk tim yang saling melengkapi (Karakter 4, 5 dan 6).

Sunday, February 24, 2008

The Power of Visualisation

Ada cerita tentang seorang pilot amerika yang tertembak jatuh dan dipenjara di Korea Utara pada saat perang Korea di tahun 1950-an. Pilot ini memiliki kegemaran untuk bermain golf, sehingga selama berada di penjara, pilot ini selalu ber-visualisasi bahwa dirinya bermain golf di sebuah turnamen dan menang… Dia habiskan waktu untuk “bermain” di 18 holes, berulang kali, ya… sekalian menghabiskan waktu di penjara yang membosankan.

Pilot ini akhirnya dibebaskan dan pulang ke Amerika. Satu hal yang langsung dia lakukan adalah memasuki sebuah turnamen golf. Coba tebak? Dengan sangat mudah, dia memenangi turnamen tersebut, yang membuat semua orang yang hadir kagum kepada dia. Orang menyangka bahwa dia dapat menang karena keberuntungan. Namun dia menjawab, tidak. Dia tau dia akan menang karena dia sudah bermain dan berlatih secara mental, mempraktekan pukulan-pukulan kemenangan (winning shots), selama bertahun-tahun, walaupun di belakang jeruji sebuah penjara…

Lesson Learned

Inilah sebuah contoh kekuatan visualisasi. Di tulisan terdahulu, ketika mengupas Imagine, ataupun Vision, maka imagination/ vision tersebut akan lebih mudah tercapai jika kita melalukan visualisasi. Sebetulnya kekuatan visualisasi ini akan mendorong mental dan tindakan kita untuk bertindak lebih kuat untuk mencapai visi kita.

Saya juga membiarkan anak-anak saya, Key & Jesse, untuk berimajinasi, dan memvisualisasikan keinginan-keinginannya. Saya masukan Key kesebuah tempat les untuk menggambar di Global Art, dan saya biarkan dia (yang memiliki cita-cita sebagai Arsitek) untuk setiap hari bermain lego, dengam membuat bangunan tingkat 5 atau 6… Ayo, Key… pancarkan kreatifitas melalui visualisasi!!!




Key & Jesse memvisualisasikan menjadi Polisi di Bandara

Sunday, April 1, 2007

Jujur (Integrity)

Tiga hari yang lalu, saya mengadakan meeting di Novotel Bogor. Saya mengalami pengalaman menarik, dimana saya merasa dipermainkan oleh bagian Marketing Novotel.

Kasusnya begini, ....

Dalam confirmation letter yang telah saya tanda tangani, telah disepakati bahwa meeting akan dilaksanakan di Salak Room. Namun, ketika rekan-rekan saya datang untuk install hub intranet, ternyata ruang meeting dipindahkan oleh bagian Marketing Novotel ke ruang yang lebih kecil. Kemudian saya datang, saya bilang kepada resepsionis bahwa berdasarkan confirmation letter, ruang meeting saya ada di Salak Room. Bagian reseptionis menghubungi Account Manager (AM) di bagian Marketing, namun AMnya ternyata sedang meeting katanya. Kemudian saya telepon AMnya langsung via Handpone, tidak dijawab... saya SMS, tidak dijawab... Setelah saya tunggu lama... saya putuskan saja, kepada rekan-rekan saya untuk install hub intranet di Salak Room.
Baru setelah itu, AM Novotel mengontak saya via telepon, dia bilang kalo ”Ruangan ditentukan oleh pihak Hotel”. Saya masih ngotot untuk menggunakan Salak Room, karena ruangan Burangrang lebih kecil, tidak akan cukup untuk peserta rapat yang saya undang. AM Novotel infokan bahwa Salak Room sudah dibooking oleh perusahaan lain. Namun, setelah didesak, akhirnya kami dapat menggunakan Salak Room.... Di satu sisi sayang senang, bisa menggunakan Salak Room, namun di sisi lain saya kecewa, karena saya merasa dibohongi... Bukankan tadi AM tersebut bilang bahwa Salak Room telah dibooking? AM tersebut TIDAK JUJUR.

Saya mendapatkan informasi dari rekan-rekan saya di Bogor, bahwa ternyata hal yang saya alami telah berlangsung berulang kali. Mereka dengan mudahnya menggantikan ruangan tanpa pemberitahuan kepada pelanggan. Tidak heran, bahwa kantor kami telah lama tidak menggunakan Novotel Bogor sebagai tempat meeting....
Sebetulnya ketidakjujuran ini sudah terjadi sebelumnya, ketika kami menggeser acara kebersamaan yang rencananya akan dilaksanakan pada Rabu Malam, saya geser menjadi Kamis Malam. AM tersebut menyatakan bahwa Kamis Malam restoran sudah dibooking perusahaan lain. Namun ketika kami kontak resepsionis, informasinya berbeda, bahwa restoran tersebut (Meuranti Restaurant) masih kosong pada Kamis Malam.... AM tersebut TIDAK JUJUR.

Di lingkungan marketing dan bisnis pada umunya, KEJUJURAN adalah merupakan modal utama untuk mencapai keberhasilan. Dari berbagai penelitian tentang sifat-sifat/ karakter penunjang keberhasilan seseorang, dari berbagai negara, Jujur selalu prioritas pertama sebagai sifat/ karakter yang menunjang keberhasilan. Dari teori ESQ yang disampaikan Ary Ginanjar, Jujur merupakan nilai dasar yang pertama, selain nilai dasar lainnya yaitu Tanggung Jawab, Visioner, Disiplin, Kerjasama, Adil dan Peduli.

Di masa sekarang ini memang terjadi krisis kejujuran. Motto atau kata-kata pesan seperti ”Trust No One” merembak diberbagai kalangan. Pelanggan tidak percaya akan perusahaan, bahkan dalam perusahaan sendiri seringkali pegawai tidak perjaya dengan manajemen, dan yang lebih parah lagi, di dalam tubuh pemerintahan tumbuh saling tidak percaya antara perwakilan rakyat dengan pemerintah. Hal ini ini menunjukkan rendahnya nilai-nilai kejujuran dalam masyarakat.

Apa sih kejujuran itu?

Melalui buku The Speed of Trust, karya Stephen M.R. Covey, saya menggali arti kejujuran. Kejujuran dalam bahasa inggris adalah HONESTY yang artinya ’telling the truth and leaving the right impression’. Jadi kalau sekedar menyampaikan berita yang benar tapi dengan impresi yang salah, masih belum dikatakan sebagai jujur. Namun, lebih jauh, kejujuran yang dimaksud untuk meningkatkan kepercayaan (trust), honesty saja tidak cukup, namun dibutuhkan yang lebih dari sekedar honest, yaitu dibutuhkan INTEGRITY. Untuk integrity dibutuhkan CONGRUENCE, HUMILITY dan COURAGE.

Congruence dapat diartikan memiliki kesamaan dari luar maupun dari dalam (the same inside and out – not compliance). Jadi pribadi orang tersebut tidak ada yang disembunyikan, karakter melekat dengan sifatnya. Humility ditekankan sebagai humble person, atau orang yang bersahaja. Stephen M.R. Covey mengungkapkan:
“A Humble Person is more concerned about what is right than about being right, about acting on good ideas than having ideas, about embracing new truth than defending outdated position, about building the team than exalting self, about recognizing contribution than being recignized for making it.”
Courage artinya memiliki keberanian untuk mengungkapkan kebenaran. Courage sangat penting dalam menumbuhkan integrity, sebagaimana Winston Churchill pernah berkata: “Courage is the first of the human qualities becouse it is a quality which guarantees all the others.”


Jadi untuk menumbuhkan bisnis yang jujur membutuhkan integritas. Integritas ini membutuhkan sifat-sifat HONESTY, CONGRUENCE, HUMILITY dan COURAGE. Bisnis yang berkelanjutan (sustainable business) membutuhkan tingkat integritas yang tinggi yang akan menumbuhkan kepercayaan yang berkelanjutan. Sebagaimana pesan yang disampaikan oleh Albert Einstein: “Whoever is careless with the truth is small matters cannot be trusted with important matters.”

Dan jangan lupa, Muhammad SAW adalah seorang pebisnis yang berhasil sebelum diutus menjadi Nabi, dikarenakan karena kejujuran dan integritasnya. Beliau mendapat gelar Al-Amin karena kejujuran dan integritasnya. Limpahkanlah shalawat dan salam kepada Rasulullah…

Tuesday, March 20, 2007

Creator, Leader & Follower

Disela-sela meeting di Hotel Sultan (ex Hilton Hotel), sambil makan siang, saya terlibat diskusi kepemimpinan yang cukup menarik. Ada pertanyaan yang menarik: ”Dadan, setelah sekian lama bekerja, berapa lama anda menjadi staf dan berapa lama menjadi leader?”. Pertanyaan ini mengarahkan saya kepada tulisan dari Fauzi Rachmanto dalam blognya http://fauzirachmanto.blogspot.com/. Dari pertanyaan itu, saya jelaskan bahwa pada dasarnya manusia ini memiliki 3 peran yang tidak pernah bisa dipisahkan dalam dunia pekerjaaan sehari-hari. 3 peran tersebut adalah: peran sebagai pencipta, peran sebagai leader dan peran sebagai follower.

Peran sebagai pencipta (Creator)

Dalam dunia pekerjaan dimanapun anda berada dan apapun pekerjaanya, kreativitas sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan pekerjaan. Kreatifitas menghasilkan ide-ide yang brilliant yang dapat membuat proses kerja menjadi lebih cepat, atau menciptakan produk yang lain yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan and so on..
Dalam blog Fauzi Rachmanto dijelaskan Mencipta Seperti Dewa (Create Like a God) sebagaimana dijelaskan Guy Kawasaki dalam bukunya Rules for Revolutionaries.

Untuk dapat mencipta seperti dewa , pertama Anda harus dapat berpikir berbeda dari orang kebanyakan. Dalam istilah Guy, kita harus dapat membuang "berhala-berhala" lama kita. Ambil contoh Kereta Api yang selama ini kita kenal adalah KA dengan 1 lokomotif dan gerbong2 yang mengikut dibelakangnya. Kalau mau lebih cepat, maka mesin lokomotifnya yang diperbesar dan diperbesar lagi. Namun KA supercepat ternyata dimungkinkan setelah "berhala" mesin di lokomotif tadi dibuang, dan dibuat inovasi dengan meletakkan mesin pada setiap gerbong. Berpikir beda juga dapat dilakukan dengan cara memisahkan bentuk dan fungsi. Ini yang terjadi melalui fenomena toko online. Sebuah toko fungsi nya adalah menjual. Maka apakah dia hadir atau tidak secara fisik adalah sekedar bentuk. Toko-toko online menolak tunduk pada bentuk, mereka kedepankan fungsi nya, yaitu berinteraksi dan melayani penjualan kepada pelanggan.”

Peran sebagai pencipta ini kadang tidak disadari bahwa manusia dianugrahkan peran tersebut oleh sang pencipta (Tuhan YME). Namun mengetahui peran kita sebagai pencipta akan membukakan pikiran kita untuk lebih kreatif dan inovatif.

Peran sebagai pemimpin (Leader)

Dalam hal-hal tertentu, kita memiliki peran sebagai pemimpin. Minimal unit yang paling kecil yang kita pimpin adalah tubuh kita sendiri, atau untuk yang berkeluarga maka kita memimpin keluarga kita. Memimpin memiliki konotasi identik dengan memerintah (command). Minimal kita memimpin/ memerintah tubuh kita untuk melakukan suatu aktifitasi positif atau negatif. Memerintah tubuh kita untuk bekerja keras dan cerdas atau bermalas-malasan. Pemimpin akan menstimulus unit yang dipimpinnya dengan motivasi, energi dan semangat.

Guy Kawasaki mengibaratkan dengan kiasan Memerintah Seperti Raja (Command Like a King). Pemimpin seperti raja dapat mempengaruhi tidak hanya kepada unit yang dipimpinnya, bahkan berpengaruh kepada lingkungan sekitar, dalam hal ini stakeholder, termasuk pelanggan.
Langkah paling penting dalam "Memerintah Seperti Raja" ini adalah menciptakan para evangelis bukan sekedar penjualan. Para evangelis bukan sekedar menggunakan produk Anda, namun juga fanatik dan akan terus menerus menceritakan kehebatan produk Anda kepada siapapun.”

Peran sebagai pemimpin dianugrahkan oleh Tuhan YME sebagaimana Allah mengutus manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. Pemimpin yang baik akan memberikan dampak positif tidak hanya pada dirinya, unitnya bahkan kepada lingkungan sekitarnya.

Peran sebagai bawahan (Follower)

Sebagai mahluk sosial, manusia juga diberikan peran sebagai bawahan/ follower yang baik. Saya masih ingat paparan Leadership Vision dari mantan Dirut TELKOM Arwin Rasyid, bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik, maka anda juga harus menjadi good follower first. Tanpa menjadi good follower anda tidak akan bisa menjadi great leader. Good follower adalah yang melakukan execution pekerjaan untuk mencapai visi bersama. Menurut Guy Kawasaki, kita harus memiliki peran sebagai pekerja: Bekerja Seperti Budak (Work Like a Slave). Tanpa peranan pekerja tidak akan ada hasilnya.

Friday, February 16, 2007

Lead by Heart, Manage by Head

Bandung, my beloved city… Perjalanan dari jakarta ke bandung sekarang Cuma 2 jam + cost Rp 60 ribu via Point-to-point travel, Cipaganti Travel. Nyampe di Bandung Trade Center, sambil nunggu saya masuk ke Bake & Chocolate… That’s a cozy place to take a breakfast… dengan roti + hot chocolate + internet (thanks to melsa i-net)….

Ingat kemarin, arahan dari Bos gw… Mr. Arief Yahya, Direktur Enterprise & Wholesale: mana yang lebih dulu…
Manage by Head atau Lead by Heart…??

Jawabannya ternyata ada di dalam Shalat kita… (how come?)

Pada Shalat, hal yang dilakukan pertama adalah berdiri setelah Takbir… Pada saat berdiri, maka posisi kepala kita berada di atas, hati kita di bawahnya. Artinya pada saat permulaan, kita diperintahkan untuk lebih menggunakan kepala/ mind/ ratio dibandingkan penggunakan hati/ emosi/ perasaan. Manage by Head lebih dulu dari Lead by Heart.

Berikutnya adalah melakukan ruku, dimana posisi kepala kita sejajar dengan hati kita. Di sini bisa diartikan, pada saat kita menjelang dewasa (remaja), mulai kita berkenalan dengan perasaan/ hati, mulai kita mengenal rasa cinta dan kasih… Di saat seperti itu, keberadaan kepala/ mind/ ratio sama dengan penggunaan hati/ emosi/ perasaan. Kadar Manage by Head sama dengan Lead by Heart

Terkhir adalah Sujud, dimana posisi kepala lebih rendah dari hati kita. Artinya, lebih dewasa seseorang maka kita diperintahkan untuk lebih banyak menggunakan hati/ perasaan dibandingkan dengan penggunakan kepala/ mind/ ratio. Penggunaan otak kanan lebih banyak dari otak kiri. Di sini seseorang akan mendapatkan kedewasaannya... mendapatkan wisdom of life...Lead by Heart lebih dulu dibandingkan Manage by Head.

Satu tambahan lagi... pada saat bersujud... gunakan untuk berdoa kepada Allah... karena disitu lah mata hati lebih bisa melihat dan merasakan kebesaran Tuhannya...

Imagine

Imagine merupakan proses dalam menciptakan mental image (impian/ cita-cita/ visi) dan idea. Imagine akan memacu diri memiliki desirability/ motivasi untuk mencapai mental image yang diyakini. Selain itu untuk dapat merealisasikannya diperlukan kekuatan berfikir dan bertindak memulai dari akhir (Start from the End). Toni Buzan[1], pencipta Mind Mapping®, menyampaikan hal yang sama, dimana salah satu ciri dari Sales Genius adalah memiliki sebuah visi penjualan puncak. Ia percaya bahwa merencanakan impian dan cita-cita, menuliskannya dengan terperinci bagaimana akan mencapainya dan membayangkannya adalah hal-hal penting bagi sebuah keberhasilan. Tanpa visi penjualan puncak, otak tidak akan memiliki sesuatu yang akan dibidik, padahal otak merupakan sebuah mekanisme pengendali keberhasilan dan akan terus berusaha meraih pencapaian apa pun yang telah ditetapkan.

Kekuatan imajinasi dimiliki oleh orang-orang yang berhasil... Impian/ cita-cita/ visi menentukan arah, pikiran dan kehendak manusia. Impian/ cita-cita/ visi pribadi sebaiknya dinyatakan secara tertulis dan secara periodik dilihat untuk direview... Hehe.. kapan ya saya sempat mensetup Impian/ cita-cita/ visi pribadi?

[1] Toni Buzan dan Richard Israel menulis buku “Sales Genius: A Master Class in Successful Selling”.